Wednesday, November 4, 2015

INFO JATIM

Hadapi MEA 2015, Jatim Siap Bangun Single Window

Gubernur Jawa Timur, Dr H Soekarwo alias Pakde Karwo
PROVINSI Jatim siap membangun sistem single window untuk mempermudah sistem kontrol/tracking. Sistem itu nantinya bukan saja mengintegrasikan antarpelabuhan, tetapi untuk semua kontrol barang keluar-masuk ke Jatim. “Sistem ini nantinya juga merupakan salah satu bentuk kebijakan untuk membatasi banyaknya barang yang masuk ke Jatim, sekaligus melindungi konsumen lokal,” terang Pakde Karwo.
Upaya lain, Jatim juga siap menjadi superkoridor Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, baik melalui penerapan teknologi informasi (TI) maupun regulasi barrier non tarrif. “Kemampuan untuk menjadi superkoridor ini terus kami asah, hal itu bisa dilihat dari perkembangan ekonomi Jatim yang mampu tumbuh 5,01% lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi nasional 4,55%,” ujar Gubernur Jawa Timur, Dr H Soekarwo, atau yang akrab disapa Pakde Karwo saat melakukan soft launching buku yang berjudul “Pintu Gerbang MEA 2015 Harus Dibuka” pada 14 Maret 2015 di Hotel Mercure, Surabaya.
Pakde Karwo mengatakan, MEA membuka koridor baru yang harus dipetik manfaatnya oleh Jatim sesuai dengan visi Pemprov Jatim 2014-2019. Karenanya, tuntutan untuk menjadi superkoridor adalah tuntutan globalisasi. Selain menjadi basis perdagangan, industri, investasi, dan tenaga kerja ahli, Jatim juga harus membangun regulasi yang bisa memihak pada pelayanan publik.
Upaya-upaya yang dibuat dalam kesiapan menghadapi MEA 2015 di antaranya dengan membangun SMK Mini, membuat 9 kantor perwakilan dagang antarpulau. “Memperkuat basis ekonomi di dalam negeri adalah bentuk nasionalisme baru di era perdagangan bebas seperti saat ini,” tegasnya.
Di sisi lain, untuk optimalisasi kinerja urusan perdagangan, pariwisata, dan investasi (PPI) ke luar negri, Jatim membentuk etalase PPI beserta senior advisornya di negara Jepang, Swiss, Cina, Korea Selatan dan Belgia.
Mengenai penguasaan bahasa, ada beberapa sekolah di bawah kendali pemerintah yang diberikan subsidi untuk kegiatan kursus bahasa asing. Saat ini Pemprov Jatim juga telah menerbitkan surat edaran (SE) untuk penguasaan bahasa Arab dan Cina. “Semua generasi muda harus mampu menguasai bahasa Inggris,” tegasnya.
Kekuatan daya saing Jatim berdasarkan data yang ada mampu memberikan kontribusi terbesar ke-2 se-Indonesia setelah DKI Jakarta. Kinerja makro ekonomi Jatim jika dilihat dari nilai absolut Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) memperlihatkan effort kinerja signifikan dari Rp 684,22 trilyun tahun 2009 menjadi Rp 1.136,33 trilyun. “Berdasarkan data tersebut Jatim bisa disebut sebagai pusat ekonomi utama di Indonesia Timur,” ungkapnya.
Sedangkan dalam lingkup regional ASEAN, PDRB Jatim teridentifikasi setara dengan 2/3 perekonomian Vietnam. Kinerja ini tentu membanggakan karena percepatan ekonomi Jatim terjadi dalam kontraksi ekonomi dunia. “Kinerja perdagangan juga menunjukkan surplus dan selalu menjadi pendorong percepatan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian Jatim layak menjadi tujuan investasi jelang MEA 2015,” tukasnya.
Jika Jatim mampu memanfaatkan pasar bersama yang memiliki jumlah pendukuk lebih dari 600 juta jiwa serta potensi perdagangan intra maupun eksternal ASEAN yang cukup besar, maka Jatim merupakan provinsi yang memiliki kekuatan untuk memproduksi barang dan jasa yang kompetitif di pasar bersama ASEAN. “Jatim memiliki penduduk 38 juta lebih dan kekuatan ekonominya tahun 2013 sebesar Rp 1.236 trilyun. Karenanya kita harus berusaha optimal mewujudkan Jatim sebagai superkoridor MEA 2015,” katanya.
Terkait penerbitan buku “Pintu Gerbang MEA 2015 Harus Dibuka”, Pakde Karwo menyampaikan, buku itu merupakan aplikasi kepemimpinannya dalam beragam ruang pandang. Pembuatannya juga melibatkan akademisi, profesional, budayawan, sastrawan dan aktivis dari berbagai wilayah di Indonesia. “Gagasan akademik dan pemikiran kreatif solutif dihimpun baik dengan menggunakan konsep scientific mind, agar bisa digunakan bagi siapa saja yang peduli dengan kemajuan dan kejayaan bangsa Indonesia,” ujarnya.
Dengan penerbitan buku itu, lanjutnya, ia berharap Jatim dapat memainkan peran sebagai pintu gerbang MEA, untuk masuk dalam ruang jauh yang lebih lagi berupa percaturan global. Selain itu terbitnya buku itu juga merupakan penanda yang menjadi semangat waga Jatim untuk menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015 yang kompetitif.
“Hal ini membutuhkan perhatian serius dari publik yang menangani bidang industri, jasa, perdagangan, serta seluruh stakeholder agar tidak terlelap dalam lorong MEA 2015,” pesannya.
Di hadapan undangan yang terdiri dari wartawan berbagai media, Pakde Karwo juga melakukan dialog interaktif. Menurutnya, semua kritikan dan saran yang membangun akan menjadi masukan dan evaluasi untuk pembuatan buku jilid selanjutnya. Turut hadir Ibu Nina Soekarwo yang biasa dipanggil Bude Karwo, Sekdaprov Jatim, Akhmad Sukardi, Asisten IV Setda Provinsi Jatim, Sukardo, serta beberapa pejabat Pemprov Jatim.
Sementara itu, Asisten Sekdaprov Jatim Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Hadi Prasetyo, di Pemprov Jatim, Jumat (11/9) mengatakan, jika antara Singapura dan Jatim akan memperat hubungan di sektor ekonomi, Singapura akan menyediakan pasar atau wadah untuk memasarkan produk-produk UMKM di Singapura. “Tempat yang ditawarkan oleh Singapura adalah semacam supermarket yang isinya semua produk-produk UMKM kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dengan nama Jatim Mart, supermarket itu akan mewakili kehadiran UMKM Jatim di Singapura. Jatim Mart ini adalah adaptasi dari “Dragon Mart” asal Tiongkok yang sudah mendunia. Namun Hadi belum mau mengatakan jenis UMKM apa saja yang akan masuk dan dipasarkan di Jatim Mart. “Tentunya semua masih kita seleksi dulu, mulai dari standarisasi, branding, dan packagingnya semua harus taraf  internasional,”ujarnya.
Oleh karena itu, sebelum produk-produk UMKM tersebut dipasarkan di Jatim Mart, Pemprov Jatim akan mengadakan pelatihan atau penyuluhan terhadap UMKM-UMKM yang dianggap dapat dibawa ke pasar Singapura. “Kita akan melakukan koordinasi dulu dengan trading house, agar UMKM kita tahu kriteria produk internasional itu seperti apa,” ujarnya.
Rencananya selain di Singapura, Jatim Mart juga akan dibangun di Vietnam. Vietnam dianggap sebagai salah satu pasar strategis karena perkembangan ekonomi Vietnam yang cukup pesat. “Jika Singapura sebagai perdagangan dunia begitu juga dengan Vietnam yang pangsa pasarnya cukup luas, bahkan mereka telah menyiapkan lahan untuk Jatim Mart,” ujarnya.
Ia menambahkan, kerja sama ini adalah sebagai salah satu hasil dari kunjungan kerja Pemprov Jatim ke Singapura selama dua hari. Selain membicarakan di bidang ekonomi dan investasi bersama dengan Indonesia Investment Promotion Center (IIPC), kunjungan kerja ini juga untuk melihat posisi Indonesia dalam Annual Update on ACI’s Provincial and Regional Competitiveness Ranking and Simulations Study for Indonesia. Dalam update tersebut, Jatim menempati posisi kedua setelah Jakarta untuk provinsi se-Indonesia.
Sementara itu Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jatim, Kabil Mubarok, mendukung niat yang baik perlu diapresiasi karena dapat mempromosikan produk hasil dari Provinsi Jatim ke luar negeri tersebut. Namun sebelum dibuka Jatim Mart pihak pemprov harus melakukan perencanaan dalam satu tahun dalam mengembangkan Jatim Mart di luar negeri ini
“Dengan adanya perencanaan dalam satu tahun itu produk yang dijual di kantor dagang ini dapat berkualitas dan terjual secara terukur, serta juga dengan perencanaan ini juga memudahkan evaluasi di perwakilan kantor dagang mana yang kurang dan harus dilakukan pembenahan,” ujarnya. (F.809) web majalah fakta / majalah fakta online


No comments:

Post a Comment