Friday, October 30, 2015

TANAH BUMBU

Wahyudin Kumpulkan Camat, Lurah Dan Kepala Desa

Hal penting yang pertama adalah mensukseskan jalannya pemilukada
secara serentak di Indonesia yang akan berlangsung
pada Desember 2015, termasuk di Kabupaten Tanah Bumbu
SATU hari setelah dilantik sebagai Penjabat Bupati Tanah Bumbu (Tanbu), Drs H Wahyuddin MAP langsung mengumpulkan seluruh camat. lurah dan kepala desa se-Kabupaten Tanbu dalam acara ramah-tamah di Balai Diklat Provinsi Kota Banjarbaru, Selasa (22/9).
Acara ramah-tamah tersebut digelar untuk lebih mendekatkan hubungan emosional yang lebih baik antara bupati dan camat, lurah dan kepala desa. Sehingga program pembangunan daerah mudah dilaksanakan dalam perjalanannya beberapa bulan ke depan. 
Ini pertama kalinya saya bersilaturahmi dengan camat, lurah dan kepala desa se-Kabupaten Tanah Bumbu. Semoga dalam koordinasi menyangkut dengan program-program pembangunan daerah nantinya supaya mudah dilaksanakan,” jelas Wahyudin pada saat memberi sambutan dalam acara ramah-tamah tersebut.
Wahyuddin menambahkan, ada beberapa hal penting yang harus diembannya terkait upaya pemerintah menunjuk dirinya sebagai Penjabat Bupati Tanah Bumbu. Hal penting yang pertama adalah mensukseskan jalannya pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) secara serentak di Indonesia yang akan berlangsung pada Desember 2015, termasuk di Kabupaten Tanah Bumbu. Tugas utama berikutnya adalah tetap menjaga netralitas PNS saat pemilukada. Kemudian yang terakhir adalah memastikan seluruh aset daerah masih dalam kondisi aman agar tidak ada satu pun yang disalahgunakan oleh oknum-oknum pegawai pemerintah yang tidak bertanggung jawab.
“Itulah hal-hal penting yang harus saya emban selama saya masih menjabat bupati. Akan tetapi pada intinya kita semua harus bisa mengawal jalannya pemilukada serentak ini agar berjalan baik dan lancar,” tegas Wahyuddin. 
Terkait adanya upaya sosialisasi pemilukada serentak, Wahyuddin mengajak kepada seluruh camat dan kepala desa untuk memasang baliho tentang himbauan kepada masyarakat agar turut berpartisipasi menciptakan situasi yang kondusif.
Sebab, menurutnya, saat-saat yang rawan ini perlu diantisipasi dan kita sadarkan diri akan hal-hal yang tidak kita inginkan. “Kami semua sama dan punya hak yang sama juga dalam menjaga keselarasan alam dan sosial politik,” tegas Wahyuddin. (F.611) web majalah fakta /majalah fakta online

ADVETORIAL HSU

                       Berhasil Meningkatkan Pelayanan Kesehatan, 
                      HSU Terima Penghargaan JKN Award 2015

Bupati HSU, Drs H Abdul Wahid HK MM Msisaat menerima penghargaan 
JKN Award 2015 dari  Direktur Utama BPJS Kesehatan,DR dr Fachmi Idris MKes
KEMENTERIAN Kesehatan Indonesia melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memberikan penghargaaan kepada pemerintah daerah di Indonesia yang dinilai telah berhasil mengintegrasikan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda)-nya ke BPJS Kesehatan.
Di Provinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) merupakan satu-satunya daerah yang dinilai sebagai kabupaten yang berhasil mengintegrasikan Jamkesda atau KSA (Kartu Sehat Amuntai) menjadi BPJS Kesehatan, sehingga berhak menerima penghargaan JKN Award 2015 dari BPJS Kesehatan Kemenkes RI.
Bupati HSU, Drs H Abdul Wahid HK MM MSi, bersama-sama 27 kepala daerah terpilih lainnya yang berhasil meraih penghargaan dari BPJS Kesehatan mendapat kehormatan menerima penghargaan secara langsung dari Direktur Utama BPJS Kesehatan, DR dr Fachmi Idris MKes, saat digelar acara yang bertajuk JKN Award 2015 di ruang Siwabessy lantai II Gedung Prof Sujudi Kementerian Kesehatan Jakarta.
Direktur Utama BPJS Kesehatan,DR dr Fachmi Idris MKes, mengatakan bahwa penghargaan ini diberikan kepada sejumlah pemerintah daerah yang telah mengintegrasikan Jamkesdanya ke BPJS Kesehatan sesuai dengan roadmap program jaminan nasional di bidang kesehatan. Integrasi Jamkesda ke BPJS Kesehatan harus selesai dalam waktu tiga tahun sejak mulai beroperasi 1 Januari 2014.
Menurut Fachmi Idris, terdapat 13 provinsi dan 270 kabupaten/kota yang telah melakukan integrasi ke BPJS Kesehatan. Hingga periode 28 Agustus 2015 terdapat 7,26% dari 150.753.391 jiwa peserta BPJS Kesehatan adalah peserta Jamkesda yang sudah terintegrasi ke BPJS Kesehatan.
Bupati HSU, H Abdul Wahid HK, menyatakan rasa syukur atas penghargaan yang diberikan oleh BPJS Kesehatan tersebut serta menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat dan instansi terkait di Kabupaten HSU, termasuk lembaga legislatif dan yudikatif yang telah mendorong dan bekerja sama dengan baik sehingga diraihnya penghargaan tersebut.
“Penghargaan ini adalah milik seluruh komponen masyarakat HSU dan terpenting pelayanan masyarakat di bidang kesehatan akan semakin berkualitas. Masyarakat HSU pemegang kartu KSA yang telah terintegrasi dengan BPJS Kesehatan tidak hanya bisa berobat di Amuntai tapi sudah bisa berobat hingga ke Jakarta jika itu diperlukan,” ujar Wahid usai penyerahan JKN Award 2015.
Diraihnya penghargaan JKN Award 2015 menjadikan Bupati HSU, H Abdul Wahid HK, untuk tetap berkomitmen dan bertekad terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, dan sarana-prasarana kesehatan mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten.
“Bidang kesehatan adalah salah satu visi dan misi prioritas saya ketika mencalonkan diri sebagai Bupati HSU pada tahun 2012. Karena itu penghargaan ini sebagai bukti keseriusan saya untuk terus meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di Kabupaten HSU,”,jelas Bupati HSU, H Abdul Wahid HK.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten HSU, drg Isnur Hatta, mengatakan bahwa di Kabupaten HSU sekarang jumlah peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) pusat berjumlah 68.034 jiwa dan PBI daerah sebanyak 12.218 jiwa. Mereka adalah masyarakat tidak mampu yang iuran kesehatannya dibayarkan oleh pemerintah daerah di mana nantinya seluruhnya akan menjadi PBI Pusat.
“Memang masih ada beberapa kendala yang ditemui di lapangan, seperti masih adanya penduduk kurang mampu yang tidak memiliki KTP yang harus segera diselesaikan oleh pemda dengan lintas sektoral, ujar Isnur Hatta saat mendampingi Bupati HSU.
Isnur Hatta juga menghimbau kepada masyarakat yang mampu di Kabupaten HSU untuk segera bergabung dengan BPJS Kesehatan secara mandiri di luar pekerja perusahaan, PNS,TNI/Polri yang keanggotaannya sudah secara otomatis terintegrasi dengan Askes, sehingga kualitas kesehatan masyarakat di Kabupaten HSU akan semakin meningkat.
Dalam penerimaan penghargaan tersebut, Bupati HSU, H Abdul Wahid HK, didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan HSU, drg Isnur Hatta, Kepala RSU Pambalah Batung Amuntai, dr Agus Fadliansyah, dan Kepala Bagian Humas Setda HSU, Adi Lesmana Ssos MSi. (Tim) web majalah fakta / majalah fakta online

ADVETORIAL BATOLA

Tingkatkan Produksi Pertanian
Petani Batola Gunakan Mesin Pertanian Modern

PROVINSI Kalimantan Selatan (Kalsel) saat ini produksi padinya rata-rata mencapai 2,26 juta ton per tahun atau 1,3 juta ton beras per tahun. Dari hasil itu separonya yakni 600 ribu ton dikonsumsi sendiri, sedangkan sisanya dijual ke provinsi lain. Dan pada tahun 2014 lalu Kalsel masuk peringkat 10 penghasil beras nasional, sedangkan di tahun 2015 ini naik menjadi peringkat 9.
Dari produksi beras Kalsel yang sebesar 1,3 juta ton tersebut, Kabupaten Barito Kuala (Batola) yang merupakan lumbung padi Kalsel adalah penyumbang terbesar dalam menunjang ketahanan pangan nasional yaitu sebesar 16 hingga 17 persen. Sebenarnya hasil produksi beras tersebut masih bisa ditingkatkan lagi jika petani mau meningkatkan pola tanam dua kali setahun sebagaimana yang diharapkan Bupati Bayola, Hasanuddin Murad.
Kabupaten Batola kini sudah menjadi salah satu kabupaten penopang kebutuhan beras di Kalsel. Hal tersebut dikarenakan Batola memiliki lahan yang sangat luas, sehingga sektor pertanian merupakan andalan Kabupaten Barito Kuala. Pada tahun 2014 memiliki luas tanam hanya sekitar 98.789 hektar, tetapi di tahun 2015 ini jumlah luas tanamnya menjadi 99.707 hektar. Luas tanam ini mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, yaitu sekitar 918 hektar.
Keinginan Bupati Batola, H Hasanuddin Murad, agar semua petani di Batola
memanfaatkan lahan pertaniannya untuk bisa melakukan tanam
dan panen dua kali setahun
akan segera terlaksana
Dengan memiliki lahan pertanian yang luasnya hingga puluhan ribu hektar tersebut dan menunjang kegiatan petani dalam menggarap lahan pertaniannya, Pemkab Barito Kuala memberikan bantuan kepada para petani melalui kelompok tani berupa alat-alat pertanian modern sehingga memudahkan para petani melakukan tanam padi, dan agar pekerjaannya menjadi lebih efisien juga meningkatkan hasil pertanian.
Hingga saat ini Kabupaten Batola telah memiliki 12 unit alat panen padi otomatis crown combine harvester dan CCH-790 Tomcat, 202 unit pompa air, alat pengolah tanah hand tractor, pembasmi hama power threser dan beberapa alat pertanian modern lainnya. Juga beberapa alat pertanian bantuan dari Kementerian Pertanian beberapa waktu lalu, seperti traktor roda 2 sebanyak 30 unit. Kemudian pompa air sebanyak 10 unit, perangkat uji tanah rawa, perangkat uji tanah sawah dan perangkat uji pupuk masing-masing sebanyak 1 unit.
Kementerian Pertanian tidak hanya memberikan bantuan berupa peralatan pertanian modern, tapi juga berupa benih padi rawa Inpara 2 sebanyak 10 ton, benih kedelai sebanyak 900 ton.
Dengan menggunakan alat pertanian modern tersebut memudahkan petani Batola menggarap lahan pertaniannya sehingga produksi padi di Kabupaten Batola tiap tahun terus meningkat. Para petani pun memperoleh beberapa keuntungan jika dibanding melakukan tanam secara tradisional, di antaranya dapat menghemat biaya, waktu, tenaga dan lebih efisien serta hasil tanam dan panennya juga lebih maksimal.
Keinginan Bupati Batola, H Hasanuddin Murad, agar semua petani di Batola memanfaatkan lahan pertaniannya untuk bisa melakukan tanam dan panen dua kali setahun tentunya segera terlaksana, karena sebagian petani Batola sudah menggunakan alat-alat pertanian modern. Ada sekitar 4.000 hektar lahan pertanian memiliki potensi pengembangan padi unggul yang melakukan panen dua kali setahun dengan menggunakan system reward, tinggal sekitar 3.000 hektar lahan pertanian yang digarap petani Batola dengan cara tradisional sehingga hanya bisa melakukan tanam dan panen setahun sekali.
Namun para petani yang menggarap lahannya hanya untuk setahun sekali kini mulai melakukan panen dua kali setahun, hal tersebut dikarenakan mereka sudah mulai merasakan manfaat dan keuntungan dengan menggunakan peralatan pertanian modern yang telah diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Barito Kuala maupun pemerintah pusat.
Dengan menggunakan peralatan pertanian modern, ditunjang oleh sistem irigasi dan jalan usaha tani yang baik serta kemudahan mendapatkan obat-obatan pertanian serta pinjaman pupuk bersubsidi sehingga memudahkan para petani, juga dapat menunjang perluasan dan peningkatan hasil produksi padi bisa lebih banyak dan meningkatkan kesejahteraan para petani sendiri.
Pemkab Batola berharap peralatan pertanian modern tersebut dapat dimanfaatkan dan digunakan secara maksimal, dan para petani bersama-sama dengan kelompok taninya bisa memeliharanya sehingga usia penggunaannya lebih panjang. (Tim) web majalah fakta / majalah fakta online

BALANGAN BUMI SANGGAM

SDA Balangan Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Biji kelapa salak

MEMILIKI sumber daya alam (SDA) yang melimpah merupakan suatu keberuntungan, karena Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan menjadi besar sehingga dapat membangun daerah sesuai yang direncanakan dan kendala adanya hambatan untuk pembangunan karena kurangnya dana tentu tidak akan dialami.
Oleh karena itu, SDA yang dimiliki harus dikelola dan ditata dengan sebaik mungkin sesuai dengan peruntukkannya, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat dirasakan dengan melimpahnya sumber daya alam yang dimiliki daerah tersebut.
        Kabupaten Balangan yang juga disebut dengan Bumi Sanggam memiliki luas wilayah 1.878,30 km2 patut bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan, karena memiliki hamper semua SDA yang strategis, antara lain tambang batu bara, bijih besi, minyak bumi, emas, marmer, galian C, phospat, kaolin, gambut, lempung serta batu gamping. Berdasarkan data yang dimiliki Pemerintah KabupatenBalangan, saat ini terdapat 73.288 hektar tambang batu bara yang dikelola PMA/PMDN.
Beberapa daerah yang ada di Bumi Sanggam selalu mengandung SDA, seperti tambang bijih besi seluas 4.461 hektar terdapat di Gunung Tanalang, Gunung Batu Berani dan Muara Pitap dengan jumlah deposit 166.366 metrik ton yang kini dalam proses ekplorasi PMA/PMDN.
Kandungan emas primer dan sekunder juga terdapat di Kecamatan Awayan dan Halong, kemudian kekayaan alam lainnya yakni batu marmer, galian C dan batu gamping yang saat ini banyak dikelola oleh masyarakat.
Balangan juga mempunyai potensi areal tanaman pangan holtikultura seperti padi, kacang, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, langsat, jagung, pisang kepok dan pisang talas. Kemudian di sektor perikanan, dapat dikembangkan di sepanjang aliran sungai Balangan, cekdam, baruh (rawa), serta kolam tadah hujan. Komoditas yang dikembangkan adalah ikan patin, mas dan nila. Perikanan budi daya yang akan dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan ekspor adalah ikan betutu yang terdapat di Kecamatan Paringin (Baruh Bahinu Dalam).
Peningkatan potensi SDA Kabupaten Balangan akan terus dikembangkan, baik di sektor perkebunan maupun kehutanan, di mana telah mulai dirintis perkebunan kelapa salak yang diharapkan dapat menjadi alternatif usaha masyarakat di sector perkebunan.
Pengembangan tanaman kelapa dan salak ini dimaksudkan untuk dapat dikomersialkan pada daerah pengembangan wisata, serta diharapkan berpeluang untuk dilakukan kerja sama waralaba kebun induk di daerah sentra kelapa sebagai sumber benih jangka panjang dengan menggunakan benih kelapa salak. Pengembangan usaha perkebunan tersebut sebagai alternatif usaha perkebunan rakyat.
Adapun kondisi alam yang baik bagi potensi pengembangan perkebunan masih relative menjanjikan. Untuk itulah program pengembangan kelapa salak dijalankan, dikarenakan kelapa salak tumbuh dengan waktu yang relatif pendek, yakni hanya tiga sampai empat tahun saja. Meskipun komoditi ini hanya mampu menghasilkan 60 biji kelapa setiap tahunnya, namun bias menambah pasokan kelapa di pasaran.
Dengan kekayaan SDA yang melimpah tersebut, Kabupaten Balangan merupakan kabupaten masa depan yang sangat diperhitungkan sebagai salah satu penyangga "Banua Enam" bersama Kabupaten Tabalong, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara serta Tapin. Kendati kekayaan SDA Balangan cukup melimpah, namun Pemerintah Kabupaten Balangan sangat hati-hati memanfaatkan dana bagi hasil dari pertambangan dan bahan galian tersebut.
Pemerintah Kabupaten Balangan sangat selektif, karena sepenuhnya menyadari bahwa pembangunan ekonomi di Balangan tidak hanya berbasis SDA, namun harus diimbangi dengan pengelolaan SDM yang bias menguntungkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk periode jangka panjang.
Para petinggi pemerintahan di Balangan juga menilai bahwa keberadaan perusahaan yang berkembang di Kabupaten Balangan sedikit-banyak mempunyai andil dalam membantu pembangunan dan kemajuan di masyarakat.
Penilaian dari pihak Pemkab Balangan tersebut, karena kerja sama dan dukungan pihak perusahaan swasta yang selalu ikut mendukung kemajuan pembangunan di Balangan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Balangan.
Lebih jauh, Pemkab Balangan sangat mengharapkan kerja sama pemerintah dan pihak perusahaan dapat terus berlanjut hingga di masa yang akan datang, sehingga ke depannya mampu meningkatkan pembangunan Kabupaten Balangan terus menjadi semakin lebih baik lagi.
Pada tahun 2015 ini bantuan pihak perusahaan semakin menurun sebagai akibat dari semakin lemahnya harga batu bara di pasaran. Hal tersebut ditandai dengan permintaan batu bara yang terus menurun. Grafik harga batu bara dari tahun 2012 hingga 2015 terus melemah dan berdampak pada melemahnya kinerja perusahaan dalam pencapaian target usaha yang telah ditetapkan.
Meskipun industri batu bara dihadapkan pada kondisi sulit, namun berbagai investor di pihak pertambangan tetap bertahan dan menyadari tentang pentingnya menjaga komitmen perusahaan dalam masalah Corporate Social Responcibility (CSR). Juga pihak perusahaan tidak ingin kehilangan fokus untuk menyiapkan masyarakat mandiri pada pasca tambang nantinya dan tetap mengalokasikan dana CSR, meskipun alokasi CSR tahun 2015 ini lebih rendah dari alokasi CSR tahun 2014. (Tim) web majalah fakta / majalah fakta online







                                        




PERISTIWA GARUT

WARGA PERUM KARISMA RESIDENT ALAMI KRISIS AIR BERSIH

Bupati Garut, H Rudy Gunawan SH MH MP
DAMPAK kemarau panjang beberapa desa di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami gagal panen dan krisis air. Untuk mendapatkan air, warga Desa Cigedug, Kecamatan Bayongbong, harus menelusuri jalan tikus turun-naik jalan kaki menempuh jarak 2 – 3 km. Seperti yang dialami Ujang (46), warga Cigedug. “Selama kemarau panjang ini air yang sangat diperlukan warga tidak ada. Pemerintah daerah pun belum mengatasinya”.
Kesulitan air juga dialami warga Perum Karisma Resident Desa Cimanganten, Kecamatan Tarogong Kaler. Air bersih yang selama ini dialirkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Garut pun tersendat-sendat aliarannya di musim kemarau. Bahkan tidak mengalir sama sekali selama 1 X 24 jam.
Pantauan Andris Sutresna dari FAKTA, warga selalu membuka kran meteran  airnya untuk melancarkan jalannya air. Namun kalau airnya tidak lancar mengalir meterannya terus aktif berputar karena desakan udara sehingga angka meterannya pun ikut berputar ke angka yang lebih besar. Hingga pembayaran rekening air PDAM-nya menjadi lebih besar meskipun airnya tidak mengalir. Kalau sudah begitu yang dirugikan jelas warga dan sebaliknya PDAM yang diuntungkan.
Sedangkan warga Kampung Tegalsari, Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, sampai berita ini dibuat, mengalirkan air hanya dari sumber mata air dengan menggunakan slang plastik yang jaraknya sampai 5 km dari dataran tinggi tempat sumber mata air itu berada. Penduduk 10 RW berjumlah 1.400 KK atau sekitar 6.000 jiwa itu mengalami krisis air pula. Hingga akibatnya sekitar 40 hektar sawah gagal panen.
Menurut Ketua Kelompok Tani yang beranggotakan 40 orang,  Lili  (50), sawah yang digarap oleh kelompok taninya sekitar  27 hektar. Sawah yang biasanya disebut tadah hujan itu untuk tahun 2015 ini mengalami kerugian sekitar Rp 87.500.000,- dari padi yang dihasilkan 175 ton setiap musim panen.
Sementara itu Ketua RW 13 Perum Karisma Resident, Anwar Al Munashir, serta Dodi (48) dari RT 03/13 Desa Cimanganten, Kecamatan Tarogong Kaler,   saat berkunjung ke tempat pembayaran rekening air PDAM untuk konfirmasi masalah air dari PDAM Kabupaten Garut yang tidak mengalir ke rumah-rumah warga mendapat penjelasan dari salah satu pekerja PDAM, Ondi, bahwa selama musim kemarau tahun ini debit air sumber PDAM yang dikonsumsi warga Perumahan Karisma Resident memang menurun. 
Masih menurut Ondi, pada musim kemarau panjang tahun ini pihak PDAM Garut mengadakan perbaikan bak penampungan. “Mudah-mudahan akhir bulan  September ini airnya bisa kembali  normal seperti biasa”. (F.542) web majalah fakta / majalah fakta online

ADVETORIAL SURABAYA

web majalah fakta / majalah fakta online

COVER

web majalah fakta / majalah fakta online

Wednesday, October 21, 2015

IKLAN

web majalah fakta / majalah fakta online

IKLAN

web majalah fakta / majalah fakta online

OPINI

SELAMAT HUT RI KE-70, MERDEKAAAA..!! Benarkah ?

Salah satu lomba Agustusan di kampung
SUDAH biasa mendengar pekikan MERDEKAAA… !!! sambil batuk-batuk dan kepalkan tangan, regangkan siku dan mengangkatnya hingga ke langit kemudian turunkan dan gandengkan dengan teman yang lain supaya terlihat bersatu.
Teks pernyataan kemenangan bagi bangsa Indonesia yang dibacakan oleh presiden pertama republik ini terus mengiang di kuping meskipun hanya setiap tahun sekali dibacakan dalam acara Hari Peringatan Detik-Detik Kemerdekaan.
Teks yang berbunyi nyaring tiap tahun pada tiap tanggal 17 Agustus ini selalu terngiang di kuping. Singkat sekali dalam pemindahan kekuasaan dari pemerintah asing ke pemerintah Republik Indonesia.
Presiden Soekarno yang ketika itu berjuang bersama seluruh rakyat untuk kemerdekaan bangsa ini, sambil sesekali ditangkap penjajah Belanda, dipenjara, diasingkan bahkan mungkin disiksa, harus berakhir kekuasaannya dengan SUPERSEMAR-nya yang diberikan kepada Kolonel Soeharto yang memindahkan   pula kekuasaan Soekarno dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Pemerintahan baru yang dipimpin Kolonel Soeharto ini pun melenggang dengan seksama karena para jenderalnya sudah dijebak isu PKI. Yang kemudian Kolonel Soeharto dengan waktu singkat pula diangkat rakyat  menjadi jenderal bintang empat dan kemudian dengan mudah pula diangkat oleh rakyat Indonesia sebagai Jenderal Besar. Selanjutnya diangkat lagi menjadi Bapak Pembangunan Republik Indonesia.
Wajar saja, arsitek pembangunan bangsa Indonesia selama 30 tahun ini memang terlihat nyata, tidak banyak uang yang tercecer meskipun terlihat seperti anarkis. Pejabat yang korup juga masih tergolong sedikit di jamannya. Anggota DPRD saja masih terlihat berangkat kerja masih numpang angkot. Bahkan untuk ongkos pergi reses, misalnya, masih minta subsidi orangtuanya. ADA JUGA yang setjara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya juga pejabat dan kroni-kroninya presiden baru ini memindahkan harta benda bangsanya ke saku masing-masing dengan mengatasnamakan pembangunan sehingga terlihat berubah drastis dari serba kekurangan menjadi lebih mentereng dan terkesan “APA YANG GUE MAU GUE BISA BELI”. Ingat lagu BENTO dan Belalalang Tua-nya Iwan Fals.
Sehingga pada beberapa lama Presiden Soeharto berkuasa paling tidak “belum memenuhi syarat  keseragaman dalam pemerataan pembagian pendapatan bangsa kepada rakyat, meskipun terasa bagi ekonomi dasar rakyat terasa masih ada enaknya dibanding dengan presiden-presiden setelah Presiden Soeharto”. Wajar kalau sekarang ada slogan pada stiker-stiker yang bergambar Presiden Soeharto bertuliskan,“ISIH ENAK JAMANKU TO ?!” (MASIH ENAK JAMANKU KAN ?!).
Karena, memang belum dikatakan seragam pendapatan dari awal ORBA, ORREF hingga ORKER,  ada yang akhirnya membudayakan meminta-minta di jalan, baik dengan cara ortodoks (sendiri-sendiri dengan alat batok kelapa untuk wadahnya), modern (dengan pengeras suara dan mobil beserta rombongan dan dengan karung sebagai wadahnya), para veteran pejuang menjadi gelandangan, eks atlet tenar menjadi gelandangan, perempuan-perempuan melacurkan diri dengan alasan ekonominya lemah. Mungkin malah saat ini yang akan menjadi panggilan Paduka Yang Mulia adalah bisnisman yang dekat dengan penguasa, para penghibur yang biasa disebut artis, yang koruptor berjamaah, yang mengerti di mana kumpulan uang rakyat di simpan, yang bisa membobol bank bekerja sama dengan pejabat bank itu, yang bisa membuat kuitansi double (satu isi satu kosong tapi bertanda tangan supaya bisa diisi seenak perutnya), yang bisa memanipulasi pajak, yang ada kekuatan merampok kapal tanker di tengah laut, dan paling tidak yang bisa mengambil uang biru dan emas batangan sisa perjuangan kemerdekaan yang dipegang oleh pejabat Bung Karno dan seribu satu lagi cara mengambil uang-uang ini.
Bangsa Indonesia yang menurut orang luar negeri sana adalah bangsa yang kaya raya, yang jika dihitung sudah bisa memberi usaha, kerja bahkan jika uangnya tidak diambil secara bathil bisa mengentaskan Social Securitry penduduk hingga berjumlah 500 juta lebih, saking kayanya..!!!
Jika anda ingin berbisnis ya ke Indonesia (yah, bisa dengan kotor, bisa dengan bersih), jika ingin bekerja pergilah ke negara-negara maju,” kata salah seorang turis.
Era setelah turunnya Presiden Soeharto, memang menjadi berbeda. Tingkat korupsi menjulang tinggi, dari Lurah/Kepala Desa hingga para pejabat tinggi Negara jadi tersangka korupsi. Tidak ada lagi pejabat yang disubsidi oleh orangtuanya jika pergi kerja, apartemen-apartemen laku keras, properti-properti mahal laku keras, Mc D, KFC (wartegnya di negara maju, elitnya di Indonesia) juga Dunkin Donat berdesakan antri untuk menikmatinya. Setiap hari libur pusat hiburan penuh, seputar bumi sudah dipenuhi turis Indonesia, kursi pesawat FULL meskipun harga High Season tinggi DIBAYARNYA tanpa menawar.
Presiden Jokowi, sang penyelamat bangsa, satrio piningit, sederhana, merakyat (masih mau makan di WARTEG), meskipun kerempeng (kata mantan Presiden Megawati), tapi lugas, tegas, berani jika benar, jujur dan bertanggung jawab, tapi sepertinya masih ketakutan dihina sehingga merasa perlu mengaktifkan lagi pasal anti penghinaan untuk presiden di RUU KUHP, meskipun masih dalam penggodokan lagi.
Apa yang rakyat inginkan?
Lihat pada sepatu, celana, baju, yang berharga murah pada presiden kita, Bapak Jokowi, supaya terlihat adil oleh anda sendiri, waspada musuh dalam selimut yang dengki, iri dan dendam, ratakan di tanah pada yang tidak jujur, ratakan pendapatan dari rakyat untuk rakyat, gunakan kekuatan air, angin, tanah dan api dan delapan penjuru angin untuk menindak pejabat yang iri, dengki, tak jujur, koruptor tak perlu dipenjara cukup dimiskinkan, sita termasuk baju yang dipakai, lepaskan ke masyarakat tak perlu ditemani dan ditegur.
Yang paling segera adalah hilangkan image negara miskin, ciptakan usaha dan kerja di desa, bebaskan biaya rumah sakit, pertahankan bebas uang pendidikan hinnga SLTA, bayar pensiun meskipun karyawan swasta, tegakkan gaji UMK, tumpas pengusaha yang melecehkan UU ketenagakerjaan, rapikan dan tertibkan lalu lintas.
Ternyata tulisan sedikit kalau dipraktekkan banyak juga, Pak. Mohon maaf jika ada tulisan-tulisan yang sensitif dan dianggap menghina presiden maupun mantan-mantan presiden kita. Karena hanya tulisan di ataslah yang bisa penulis sumbangkan. Terima kasih. web majalah fakta / majalah fakta online
Oleh :
Budi Slamet Riyadi
Kepala Perwakilan Majalah FAKTA Jakarta