Sunday, October 30, 2016

OPINI

PENGHALANG TERKABULNYA DOA

BISMILLAHIR Rohmaanir Rohiim,
Assalamu’ alaikum Wr. Wb.
Harus diakui, sebagian besar dari kita merasakan dalam batin dan galau pikiran, mengapa permohonan doanya belum dikabulkan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa (Swt). Dengan kata lain, mengapa amal ibadahnya belum diterima Allah Swt. Padahal, kita memohon kepada-Nya sudah berlangsung lama dan bahkan sudah bertahun-tahun. Sementara itu, meskipun kita tetap istikamah memohon kepada Allah, namun kita tidak pernah, atau lupa terlintas berpikir dan muhasabah (introspeksi): “mengapa permohonan doaku belum/tidak dikabulkan Allah?
Berkaitan dengan itu, sesungguhnya ada adab-adab penyebab penghalang permohonan doa kita. Kyai H Hasyim Asy’ari setelah mengkaji beberapa hadis Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam (Saw), memberikan uraian tentang adab yang dapat menghalangi amal ibadah kita, antara lain beliau menulis: “Tanpa adab dan perilaku yang terpuji, maka apa pun amal ibadah seseorang tidak akan diterima di sisi Allah Swt (sebagai satu amal kebaikan), baik menyangkut amal qalbiyah (hati), badaniyah (badan), qauliyah (ucapan), maupun fi’liyah (perbuatan)”. Dengan demikian dapat kita pahami bahwa salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah Swt adalah melalui aspek adab, yang disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukan.
Oleh karena itu, manusia wajib tafakur mencari penyebab penghalang terkabul doanya. Boleh jadi, karena sebelumnya manusia tidak atau kurang  memperhatikan ibadah fardunya. Misalnya, ia tidak memperhatikan adab berwudunya (contohnya, ketika wudu dalam keadaan telanjang) dan tidak memperhatikan adab salatnya (contohnya, ketika salat tergesa-gesa). Jika adab wudu dan adab salatnya sudah benar dan paripurna, namun masih ada adab dan perilaku yang tidak terpuji yang dapat menjadi dosa. Allah menegaskan dalam firman-Nya, [terjemahannya]: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka (QS. al-Qamar [54]: 47). Sementara itu, Nabi Saw bersabda, [terjemahannya]: Jangan meremehkan dosa, karena dosa-dosa kecil akan menjadi besar bila orang menghimpunnya. Kiranya pesan Nabi tersebut menjadi peringatan manusia.
Dalam tataran praktik, sering kita temukan amal fi’liyah (perbuatan) yang tercela, yang dapat menghalangi terkabulkan doa kita. Secara sosiologis (ilmu tentang sifat, perilaku dan perkembangan masyarakat) dapat dicermati fi’liyah tercela di sekitar kita. Misalnya, berjualan dengan mengurangi berat timbangan; berjualan/berdagang secara tetap dengan memakai tanah milik umum/publik; berjualan makanan dengan memakai formalin/borak; makan/minum dengan tangan kiri; makan/minum sambil berdiri;  sholat memakai kaos tanpa kerah; memakai celana pendek di luar rumah; memakai jilbab dengan baju/celana ketat; suka cidera janji (misalnya, membayar hutang); mempersulit pelayanan umum kepada masyarakat agar diberi imbalan; mengkomersilkan jabatan negara; bersepeda motor di jalan umum tanpa helm; menilep uang parkir; merusak atau membiarkan tanaman kering di sekitar rumahnya; mengabaikan hewan lapar di sekitar rumahnya dan amalan fi’liyah tercela lainnya. Belum lagi terhitung, bagaimana amalan qalbiyah (hati), badaniyah (badan) dan qauliyah (ucapan) yang dapat menghambat terkabulnya permohonan doanya. Apabila amal fi’liyah tercela tersebut dianggap hanya sebagai dosa kecil, maka ingatlah pesan  Ali bin Abi Thalib Radiallahu ‘Anhu (ra) yang menegaskan bahwa: “dosa yang paling besar adalah dosa yang dianggap kecil oleh pelakunya”. Oleh karenanya, sudah sepatutnya kita menghindar dari segala bentuk jenis dosa, meskipun dosanya dianggap kecil.
Uraian tersebut di atas merupakan sebagian kecil dari fi’liyah tercela, yang teramati secara inderawi dan dipastikan akan melahirkan dosa. Padahal dosa dapat menjadi penghalang terkabulnya doa. Imam Ibnul Qoyyim menyebut ada 40 lebih dampak dosa, antara lain: 1). Dosa menghalangi pelakunya dari ilmu, 2). Terhalang dari rezeki, dan 3). Kehinaan di sisi Allah. Apabila Allah Swt mengabulkan permohonan doanya, meskipun amal fi’liyah tercela. Namun sesungguhnya siksaan akhirat itu lebih menghinakan (QS. Fushilat [41]: 16). Oleh karena itu, segeralah bertobat dan perbaiki amal qalbiyah (hati), badaniyah (badan), qauliyah (ucapan), maupun fi’liyah (perbuatan). Tobat yang disertai dengan iman, kemudian istikamah kualitas salat dan berzikirnya serta taat pada hukum-hukum Allah (QS. at-Taubah [9]: 112), adalah tidak lain dengan harapan agar dosa-dosanya diampuni Allah Swt, sehingga dalam menghadapi kematian sewaktu-waktu tidak meninggalkan beban bagi dirinya. Kematian ? Ya itulah batas akhir kelakuan manusia sebelum memasuki kehidupan yang kekal.
Akhirulkalam, hendaknya permohonan doa kita tidak terbebani dengan hal-hal yang mubah, syubhad yang dekat dengan haram. Wallahu a’lambil-shawab. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H, Mohon Maaf Lahir & Batin.   
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
web majalah fakta / majalah fakta online / mdsnacks

Daftar Pustaka
Ardian Husaini, Makna “Adab” dalam Perspektif Pendidikan Islam, dalam  Adian Husaini, et.al. Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam, Gema Insani, Jakarta, 2013.
Eddy Pranjoto W, Keniscayaan Berzikir, Pustaka Akhlak, Edisi Revisi Cetakan Kedelapan, Surabaya, 2015.
Oleh:

















Dr H Eddy Pranjoto W SH MH MPA MSi.
Ketua Umum Yayasan Masjid Baitul Mukmin Dukuh Kupang Barat Surabaya



No comments:

Post a Comment