Tuesday, October 18, 2016

UNTAIAN PERISTIWA

WALIKOTA SURABAYA PERCANTIK KAWASAN KENJERAN

Bu Risma saat mengecat rumah warga Kampung Kejawan Lor, Kenjeran.
PEMERINTAH Kota (Pemkot) Surabaya terus berupaya mempercantik wajah kawasan Kenjeran. Di antaranya dengan melakukan pengecatan rumah-rumah nelayan dan warga di sana menjadi lebih berwarna-warni dan menarik dipandang. Pengecatan rumah nelayan di Kenjeran itu dipimpin langsung oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini atau Bu Risma, bersama jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkot Surabaya dan elemen masyarakat, Jumat (20/5).
Tiba di kawasan kampung Kejawan Lor, Kenjeran, sekitar pukul 09.00 WIB, Bu Risma langsung mengenakan helm pengaman sembari membawa kuas cat. Dia lantas sibuk mengecat dinding rumah warga yang ada di seberang jalan, dengan warna hijau. Tak hanya rumah di pinggir jalan, ia juga masuk ke dalam kampung hingga rumah yang lokasinya berbatasan langsung dengan pantai. Sembari mengecat, ia juga menyapa dan berdialog dengan warga yang berpapasan. Lebih dari satu jam Bu Risma melakukan pengecatan di kampung Kejawan Lor.  
“Kalau begini kan kelihatan lebih bagus ya bu rumahnya. Nanti kalau kampungnya bagus, ada banyak orang ke sini dan belanja,” kata Bu Risma kepada seorang warga Kejawan Lor.
Sebelumnya, sejak pagi, jajaran SKPD Pemkot Surabaya juga beramai-ramai mengecat rumah nelayan di sana. Warga yang awalnya sekadar melihat, lantas ikut antusias mengecat rumahnya. Hasilnya, puluhan rumah nelayan di Kelurahan Kejawan Lor yang mulanya ‘tidak berwarna’ itu, berubah merona indah oleh lumuran cat warna-warni. Kegiatan pengecatan rumah warga ini juga kelanjutan dari agenda BulakFest yang digelar pada awal April lalu yang salah satu acaranya adalah pengecatan rumah nelayan di Kelurahan Cumpat.
Bu Risma mengatakan, pengecatan rumah nelayan kampung Kejawan Lor yang melibatkan seluruh SKPD Kota Surabaya ini bertujuan untuk mengubah kampung nelayan menjadi jujugan wisata internasional. Harapannya, ketika banyak wisatawan datang ke sana, akan berdampak positif dalam mengubah kondisi ekonomi para nelayan menjadi lebih baik.
“Ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas hidup nelayan. Mereka ini susah-payah mencari ikan di laut tetapi ketika dijual, harganya murah. Saya ingin mengangkat mereka ke posisi middle up. Caranya, saya akan bawa orang-orang middle up ke sini. Untuk itu lingkungan di sini harus bersih dan indah,” tegas Bu Risma.
Apalagi, akhir Juli nanti, Surabaya akan menjadi tuan rumah agenda Prepatory Committe (Prepcom) III for UN Habitat. Akan ada ribuan peserta delegasi dari puluhan negara di dunia yang datang ke Surabaya. Pemkot Surabaya juga menyiapkan agenda field trip alias kunjungan lapangan. Salah satu tujuannya adalah ke kampung nelayan Kenjeran.
Karenanya, Pemkot Surabaya terus berupaya mempercantik wajah kampung nelayan. Selain mengecat rumah dan memasang paving di jalan kampung, walikota juga menyebut akan membuatkan jamban. “Supaya warga dan anak-anak di sini sehat. Kami juga akan memberikan pelatihan untuk nelayan agar pendapatannya bertambah” sambung walikota.  
Apa yang dilakukan pemkot terhadap masyarakat nelayan di Kejawan Lor, juga menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa nelayan juga bisa survive tanpa harus berantem, tetapi bisa hidup berdampingan secara damai. Konsep ini yang membuat PBB menjadikan Surabaya sebagai tujuan untuk belajar bagi negara lain.
“Saat saya di Amerika kemarin, semua perwakilan negara hanya menyampaikan berbagai persoalan di negaranya, dan minta agar ditangani PBB. Apa-apa PBB, apa-apa PBB. Kan tidak bisa seperti itu. Makanya saya menyampaikan harus bisa berusaha sendiri, seperti yang sedang kami lakukan sekarang ini,” jelasnya.
Sementara Camat Bulak, Priyatno, berharap, rumah nelayan di tiga kelurahan, yakni Kejawan, Cumpat dan Nambangan, semuanya akan berwarna-warni oleh cat. “Bukan hanya rumah yang ada di seberang jalan, tetapi juga di dalam kampung,” ujarnya.
Dan, yang tidak kalah pentingnya, sambung Prayitno adalah bagaimana mengubah mind set warga di wilayahnya. Dia berharap warganya kelak bisa memiliki kesadaran terhadap lingkungannya sendiri. “Konotasi yang ada kan lingkungan nelayan itu kumuh dan kotor. Itu yang akan kita ubah. Harapan kami nanti kampung nelayan menjadi bersih dan indah sesuai instruksi bu wali,” sambung Prayitno. (Rilis) web majalah fakta / majalah fakta online / mdsnacks 

No comments:

Post a Comment